Hikmah berserak dari kisah Yusuf a. s
Seorang bocah kecil meringkuk dalam cekungan di dalam sumur, memerah matanya melukiskan kesedihan tak terkira. Sebakda bermain dan berlari riang di padang gembalaan bersama sepuluh saudaranya kini ia terjebak didalam sumur gelap. Namun bukan gelap itu yang mengusik kebeningan batinnya dan meluruhkan air matanya, namun pada pelakunya, yang tak lain adalah saudara-saudaranya sendiri.
Ialah Yusuf a.s putra kesayangan Nabi Yaqub a.s. yang harus hidup terpisah dari kasih ayah tercinta dan kehangatan keluarga, bersebab kedengkian yang mengakar di hati saudara-saudaranya. Kedengkian yang menumbuhkan kristal benci kepada saudara se ayah mereka yang telah piatu dengan dalih bahwa anak piatu itu telah merampas kasih sayang ayah mereka dari mereka. Kebencian yang mengantar Yusuf kecil pada makar keji. Terpisah dari ayah yang menyayanginya dan di jebak dalam sumur hingga di jual untuk di jadikan budak di usia belia.
Dari kisah Yusuf a.s yang begitu indah dilukis dalam Q.S Yusuf, kita belajar hikmah-hikmah kebijakan.
Bahwa kedengkian adalah akar dari segala keburukan dan awal penderitaan. Seperti Yusuf yang harus terpisah dari keluarga dan bertahun-tahun menjalani hidup di negeri orang tanpa tahu jalan pulang. Bersebab rasa dengki pun Iblis di usir dari syurga dan terlaknat selamanya, sebab enggan bersujud kepada manusia pertama Adam a.s. disebabkan kedengkian yang menghujam dada hingga mengabaikan perintah Allah swt.
Dari saudara-saudara Yusuf a.s kita berkaca, bahwa ujian hidup bisa datang dari mana saja, ia bisa berasal dari orang yang paling dekat dengan kehidupan kita, orang-orang yang kita harap menjadi penolong dan penguat kala terluka, yang akan mengusap airmata saat kita kesakitan, namun malah menjadi orang paling pertama yang membidikkan anak panah ke jantung kita.
Dari Yusuf a.s kita bercermin tentang kesabaran dan sifat yang memesona, terbuang dari keluarga, terpisah dari ayah yang melindunginya, dijual dan dijadikan budak, terperdaya makar isteri sang menteri hingga harus mendekam dibalik jeruji besi bertahun-tahun tak menggoyahkan kekuatan hati dan sumbu harapannya. Hingga kelak kita temui kisahnya berbuah manis, setelah derita yang panjang, ia menjadi menteri ekonomi di negeri yang telah memenjarakannya. menyalur bantuan logistik kepenjuru dunia hingga mempertemukannya dengan keluarganya yang telah terpisah bertahun-tahun lamanya. Hidup Yusuf barokah, bersih dan bahagia kembali.
Dari Yaqub a.s kita mencontoh pengharapan yang tak berkesudahan, meski duka lara telah membutakan matanya dan kesedihan telah memayahkan fisiknya, dilarungkan segala nestapa kepada yang menciptakan. Hingga hari itu datang, matahari bersinar sejuk kala rombongan istana mendudukannya dalam singgasana mulia, menandunya ke kerajaan mesir, semua keluarga yang telah menuduhnya pikun karena menyakini Yusuf masih ada entah dinegeri mana tertunduk dalam penyesalan dan dentum syukurnya tak terbendung kala matanya menemukan anak kesayangannya yang terpisah bilangan tahun menyambut kedatangannya dengan tatapan rindu yang tak terkira. Menitik-nitik air mata Yakub menemui segala kesabarannya terbalas dengan keindahan.
Lalu kepada dua insan mulia ini, Yusuf dan Yakub a.s kita mengambil teladan dalam kemaafan. Setelah segala makar yang dilakukan oleh saudara dan anak2nya, mereka melepas segala perih akan kelakukan mereka dengan memaafkan, mereka berangkulan kembali dalam bahagia dan menuntun mereka menemui jalan taubat setelah terperdaya bisikan syaithon yang meniupkan angin kedengkian dalam dada mereka.
Dari saudara-saudara Yusuf kita melihat bahwa setelah segala dosa, lumpur, dan penyesalan tercipta dalam tapak-tapak yang di lewati selalu ada jalan untuk pulang kepada kebaikan, kembali menyusuri rel-rel cahaya dengan meminta maaf dan memohon ampunan. selama nafas masih bersatu dengan ruh dan niat memperbaiki diri telah menggulung, saat itulah sinyal untuk kembali padaNya. Karena rahmatNya amat begitu luas dan kepemurahanNya tak tertandingi. Selama hidup ini tak berputus asa dari rahmatNya, maka akan selalu ada jalan kembali dan jalan solusi.
Dan diatas segala perkara yang terjadi dalam dekap hidup, ada Allah swt, Zat yang maha menyaksikan. Segala kebaikan akan berbalas buah manis dan segala keburukan akan menemui jalan yang sama. Dan Dialah sebaik-baik tempat berserah diri dan memohon pertolongan.
Azizah Zein
20:31 (9/1/18)
Komentar
Posting Komentar